Perpanjang SIM hanya 1 jam

16 Mar

Tanggal 14 Maret 2010 kemarin merupakan hari ulang tahun saya. Nah, waktu ulang ulang tahun juga merupakan waktu di saat kita harus memeriksa semua kartu-kartu identitas kita, apakah kartu kita sudah habis masa berlakunya atau belum. Kali ini giliran SIM C saya yang habis masa berlakunya.

Mengingat waktu terakhir memperpanjang SIM A di Polres Depok yang memakan waktu hingga 4 jam, saya berinisiatif untuk mengambil cuti pada hari Senin, 15 Maret, bertepatan hari “kejepit” jadi sekalian memperpanjang liburan, untuk mengurus perpanjangan SIM C. Tapi kali ini saya akan mencoba untuk mengurus SIM melalui SIM keliling.

Dari seminggu sebelumnya, saya mencari tahu lokasi SIM keliling berada pada tanggal tersebut, karena memang dari namanya saja sudah ketahuan, keliling, jadi yang pasti lokasinya berpindah-pindah. Pertama yang ada dipikiran saya dalam mencari lokasi SIM keliling adalah….. ya benar…. oom Google. Tinggal memasukkan kata kunci yang pas, hampir pasti kita dapat yang kita cari. Saya menemukan link ini untuk mengetahui informasi SIM keliling di Depok. Tapi ada beberapa sedikit langkah-langkah dan tips yang ingin saya ubah sedikit.

Pada hari H nya, dengan berbekal informasi dari web tersebut yang mengatakan lokasi hari ini adalah di Depok Town Center, Depok Maharaja, saya pergi menuju ke lokasi, setelah parkir dan melihat tidak ada tanda-tanda mobil SIM keliling, akhirnya mau tidak mau browsing sebentar pakai HP N70. Karena mengingat kalau di web yang saya dapat, ada nomor telepon yang bisa saya hubungi, walaupun waktu hari sabtu nya saya sudah mencoba telepon tapi tidak ada yang mengangkat. Saya mencoba menelpon kembali, dan ternyata kali ini diangkat, dan diberitahu oleh mbak-mbak penjawab telepon kalau lokasi SIM keliling berada di Honda Motocare, AHASS Honda yang lokasinya tidak jauh dari Depok Town Centre, saya tahu karena pernah beberapa kali service motor tiger saya di sana. Dan saya pikir, ini merupakan lokasi yang tepat, mengingat tempat tersebut memiliki banyak pohon rindang, jadi suasananya sejuk.

Di tempat lokasi, saya langsung mengambil tempat parkir yang memang telah disediakan oleh pihak Honda Motocare. Setelah parkir, saya langsung menuju ke mobil SIM keliling. Berikut yang harus dipersiapkan sebelumnya :

– Telepon dulu ke 021-7772915, untuk menanyakan lokasi SIM keliling. Ingat teleponnya jangan hari libur atau diluar jam kerja, karena ini bukan hotline 24/7.

– Yang perlu dipersiapkan, fotocopy KTP 2 lembar (KTP terbaru yang masih berlaku) dan kartu SIM yang mau piperpanjang.

– Pakai kemeja (baju yang ada kerahnya), kalau tidak ada kerahnya tidak boleh di foto.

– Bawa pulpen, boleh warna biru atau hitam.

– Bawa uang (waktu saya SIM C hanya Rp. 100.000,-), buat amannya bawa 100.000 – 300.000

Setelah semua di atas dilakukan, berikut langkah-langkah dan tips pada waktu prosesnya :

– Serahkan fotocopy KTP 2 lembar dan SIM yang lama ke Pak Polisi yang duduk di meja yang berisi formulir yang harus di isi. Nanti Pak Polisi memeriksa secara singkat fotocopy KTP dan SIM, memastikan namanya sama, lalu dipanggil untuk diberikan formulisr untuk diisi.

– Langkah selanjutnya adalah mengisi formulir. Nah disini merupaka kesempatan kita untuk menyalip posisi orang lain, maka dari itu secepat mungkin formulir diisi dan diserahkan kembali ke Pak Polisi tadi. Isiannya cukup mudah, hanya sekitar nama, tempat/tanggal lahir, alamat rumah, alamat darurat, nama bapak, SIM yang ingin diperpanjang, dll.

– Setelah menyerahkan formulir, Pak Polisi akan mendata ke buku administrasinya, lalu setelah itu, kita akan dipanggil untuk masuk ke dalam mosil SIM keliling untuk difoto. Biasanya dipanggil per 5 orang.

– Setelah dipanggil, kita memasuki mobil SIM keliling, didalam akan ada 2 Polisi yang bertugas foto dan pembayaran, dan 1 orang adminstrasi. Waktu saya, didalam mobil ini sangat sejuk, bukan karena terdapat AC didalamnya, tapi satu orang polisi nya merupakan Polwan (bisa membayangkan khan wanita berseragam daya tariknya gimana…. hehehehe… ooops).

– Proses fotonya bergantian dengan 4 orang lainnya. Sebelum foto kita akan di tanya ulang golongan darah, alamat rumah, lalu sidik jari jempol tangan kanan dan kiri, tanda tangan. Dan setelah itu kita di foto (saran : bawa sisir, jadi bisa sisiran dulu). Setelah di foto menunggu sebentar sambil membayar administrasi sebesar Rp. 100.000,- untuk SIM C (mengingat terakhir perpanjang SIM C hampir Rp. 200.000ūüė¶ ). Setelah itu SIM jadi dan selesai.

Waktu saya, semua proses tersebut tidak sampai satu jam (mulai 9.10 selesai 10.05). Dan waktu cuti saya bisa digunakan untuk hal lainnya. Saya menilai keberadaan SIM keliling seperti ini sangat berguna sekali. Bisa menghemat banyak waktu dibanding berpusat di Polres. Oiya, SIM keliling ini hanya untuk perpanjangan, bukan buat baru, dan tidak bisa apabila SIM yang akan diperpanjang sudah mati 1 tahun atau lebih.

Selamat memperpanjang…….. SIM -nya :p

Home Sweet Home

7 May

Ucapan pertama.. Alhamdulillah….. kata itu yang selalu diingatkan oleh mamah kalo saya “sedikit” mengeluh atau mengomentari sesuatu tentang rumah ini. Hehhehe.. padahal bayu (sudah) bersyukur kok mah… cuman mau komentar aja dikit, lagian juga maksudnya baik kok, mau merawat dan mengembangkan rezeki dari Allah..

Griya Rahmani 1 Blok B7 Beji Depok.. yup itu merupakan alamat rumah saya, benar2 rumah saya (yah walaupun waktu DP minjem orang tua :D…), tapi ini merupakan anugrah yang sangat besar (bagi saya) sudah dapat memiliki rumah sendiri. Ditengah tahun 2007, rumah ini mulai dibangun dan selesai (sampai finishing) kira-kira bulan Februari 2008. Dan mulai ditinggali sekitar bulan Maret 2008.

Tadinya saya dan istri saya (waktu mendesain masih calon istri) menginginkan rumah mungil yang sederhana, minimalis, dan nyaman untuk menjadi tempat istirahat, melepas kepenatan selesai bekerja. Mengingat punya teman yang lulusan arsitektur ITB, langsung deh tidak disia2kan kesempatan yang ada. Lalu mulailah mendesain rumah ini, disesuaikan dengan desain dari developer agar seragam dengan rumah yang lain.

p7280094ed

p7280096ed

Tapi rencana cuma rencana… karena pada akhirnya pada saat pembangunan banyak penyesuaian yang berkembang terus. Walaupun pada dasarnya, bentuk bangunan nya sesuai desain, tapi banyak penambahan2 yang terjadi. Walaupun saya percaya ada sedikit “campur tangan” dari papah saya yang sepertinya “terlalu” bahagia putranya punya rumah, sehingga penambahan yang sekarang banyak karena inisiatif papah (walaupun nanya dulu ke saya). Hehehehe…

Yah… sekali lagi saya bersyukur kepada Allah telah diberi kesempatan untuk merasakan rezeki yang sangat besar ini. Sehingga saat ini dapat menempati “istana” yang menjadi tempat peraduan dengan istri tercinta (insyaAllah beberapa bulan lagi sama baby deh :D)…

p4180036

p4180037

p41800381

Photo-photo Djakarta Djaman Doeloe

7 May

Dikumpulin dari berbagai sumber/forum.

Sambil membayangkan enaknya Jakarta jaman dahulu (baca : suasananya). Enjoy it….

Ancol 1948

Ancol 1948

1948 hayamwuruk

HayamWuruk 1948

1950 gajahmada

Gajah Mada 1950

1950merdekabarat-thamrin1

Merdeka Barat - Thamrin 1950

1950 pintuair

Pintu air 1950

Harmoni 1954

Harmoni 1954

Jatinegara 1955

Jatinegara 1955

Kramat raya 1955

Kramat raya 1955

Menteng raya 1955

Menteng raya 1955

Pegangsaan Timur No.56

Pegangsaan Timur No.56

Thamrin 1962

Thamrin 1962

kayanya sih sekitaran Monas..??

kayanya sih sekitaran Monas..??

Becak

Becak

Bina Graha

Bina Graha

Bioskop Megaria

Bioskop Megaria

Gedung Kesenian

Gedung Kesenian

Glodok 1932

Glodok 1932

Istana Negara 1885 (benderanya masih ada birunya :D)

Istana Negara 1885 (benderanya masih ada birunya :D)

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah

Pancoran

Pancoran

Paser Baroe

Paser Baroe

Passer baroe

Passer baroe

RSCM tahun 1900 yang masih ada pabrik opiumnya di belakang yang deket universitas bung karno

RSCM tahun 1900 yang masih ada pabrik opiumnya di belakang yang deket universitas bung karno

Stasiun Tj Priok 1929

Stasiun Tj Priok 1929

Pelabuhan Tj. Priok 1935

Pelabuhan Tj. Priok 1935

Thamrin - Sudirman

Thamrin - Sudirman

Taxi

Taxi

Toko Ice Cream (ini ragusa bukan yah??)

Toko Ice Cream (ini ragusa bukan yah??)

Peta Batavia 1897

Peta Batavia 1897

Sejarah Depok

6 May

Kota Madya Depok (dulunya kota administratif) dikenal sebagai penyangga ibukota, atau sering disebut dengan kota satelit, mirip dengan status Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Para penghuni yang mendiami wilayah Depok sebagian besar berasal dari pindahan orang Jakarta. Tak heran kalau dulu muncul pameo singkatan Depok : Daerah Elit Pemukiman Orang Kota. Mereka banyak mendiami perumahan nasional (Perumnas), membangun rumah ataupun membuat pemukiman baru.

Pada akhir tahun 70-an masyarakat Jakarta masih ragu untuk mendiami wilayah itu. Selain jauh dari pusat kota Jakarta, kawasan depok masih sepi dan banyak diliputi perkebunan dan semak belukar. Angkutan umum masih jarang, dan mengandalkan pada angkutan kereta api. Seiring dengan perkembangan zaman, wajah Depok mulai berubah. Pembangunan disana-sini gencar dilakukan oleh pemerintah setempat. Pusat hiburan seperti Plaza, Mall telah berdiri megah. Kini Depok telah menyandang predikat kotamadya dimana selama 17 tahun menjadi Kotif.

depokklv0010693563

Dahulu, Depok dan Bogor menjadi wilayah kekuasaan VOC sejak 17 April 1684, yaitu sejak ditandatanganinya perjanjian antara sultan haji dari Banten dengan VOC. Pasal tiga dari perjanjian tersebut adalah Cisadane sampai ke hulu menjadi batas wilayah kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC. Saat pemerintahan Daendels, banyak tanah di Pulau Jawa dijual kepada swasta, sehingga muncullah tuan tanah-tuan tanah baru. Di daerah Depok terdapat tuan tanah Pondok Cina, Tuan Tanah Mampang, Tuan Tanah Cinere, Tuan Tanah Citayam dan Tuan Tanah Bojong Gede.

Ada yang mengatakan bahwa nama ‚ÄúDepok‚ÄĚ adalah singkatan dari ‚ÄúDe Eerste Protestants Onderdaan Kerk‚Äú, yang artinya ‚ÄúGereja Kristen Rakyat Pertama‚ÄĚ atau ‚ÄúGereja Warganegara Protestan Pertama‚ÄĚ. Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714).

“…Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…”

Penggalan kalimat dengan ejaan van Ophuijsen itu adalah hasil terjemahan Bahasa Belanda kuno dari surat wasiat tertanggal 14 Maret 1714 yang ditulis tangan Cornelis Chastelein, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Tiga bulan kemudian Chastelein meninggal dunia, persisnya 28 Juni 1714.

depokvc1

Di bawah wewenang Kerajaan Belanda ketika itu (1696), Cornelis Chastelein diizinkan membeli tanah yang luasnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang. Meneer Belanda itu menguasai tanah kira-kira luasnya 1.244 hek­tare, setara dengan wilayah enam kecamatan zaman sekarang. Yang menarik dari surat wasiatnya, ia melukiskan Depok waktu itu yang dihiasi sungai, hutan, bambu rimbun, dan sengaja ditanam, tidak boleh di­ganggu. Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu boleh jadi berhubungan dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang, persisnya di selatan Cinere. Jika ada penggilingan tebu, niscaya ada tanaman tebu. Pastilah tanaman tebu itu terhampar luas dengan pengairan cukup. Bisa dibayangkan betapa elok Depok waktu itu.

Cornelis Chastelein sebelumnya merupakan anggota Read Ordinair atau pejabat pengadilan VOC. Ayahnya Antonie Chastelein, adalah seorang Perancis yang menyeberang ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya Maria Cruidenar, putri Wali Kota Dordtrecht. Sinyo Perancis-Belanda ini menikah dengan noni holland Catharina Van Vaalberg. Pasangan ini memiliki seorang putra, Anthony Chastelein, dan kawin dengan Anna De Haan. Saat menjabat pegawai VOC, kariernya cepat melejit. Namun, saat terjadi perubahan kebijakan karena pergantian Gubernur Jenderal VOC dari J. Camphuys ke tangan Willem Van Outhorn, ia hengkang dari VOC. Sebagai agamawan fanatik, Cornelis tidak senang melihat praktek kecurangan VOC. Borok-borok moral serta korupsi di segala bidang lapisan pihak Kompeni Belanda selaku penguasa sangat berten­tangan dengan hati nurani penginjil ini. Maka ia tetap bersikukuh keluar dari VOC, beberapa saat sebelum Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys mengalihkan jabatannya kepada Willem Van Outhorn.

Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, Cornelis Chastelein menda­tangkan pekerja/budak dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Ter­nate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rate, dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya dulu, ia pun menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya. Perlahan muncul di sini sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen, disingkat Depok. Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus yang juga disingkat Depok.

Sebagai daerah baru, Depok menarik minat pedagang-pedagang Tionghoa untuk berjualan di sana. Namun Cornelis Chastelein pernah membuat peraturan bahwa orang-orang Cina tidak boleh tinggal dikota Depok. Mereka hanya boleh berdagang, tapi tidak boleh tinggal. Ini tentu menyulitkan mereka. Mengingat saat itu perjalanan dari Depok ke Jakarta bisa memakan waktu setengah hari. Untuk mengatasi kesulitan transportasi, pedagang-pedagang tersebut membuat termpat transit di luar wilayah Depok, yang bernama Kampung Bojong. Mereka berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di sekitar wilayah tersebut. Dari sini mulai muncul nama Pondok Cina. Kampung Bojong berubah nama menjadi kampung Pondok Cina pada tahun 1918. Masyarakat sekitar daerah tersebut selalu menyebut kampung Bojong dengan sebutan Pondok Cina. Lama-kelamaan nama Kampung Bojong hilang dan timbul sebutan Pondok Cina sampai sekarang.

jembatan_panus2

Selain wasiat di atas, Cornelis Chastelein juga menulis wasiat berisi antara lain, mewariskan tanahnya kepada seluruh pe­kerjanya yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status pekerja menjadi orang merdeka. Setiap keluarga bekas pekerjanya memperoleh 16 ringgit. Hartanya berupa 300 kerbau pembajak sawah, dua perangkat gamelan berlapis emas, 60 tombak perak, juga dihi­bahkannya kepada bekas pekerjanya. Pada 28 juni 1714 Cornelis Chas­telein meninggal dunia, meninggalkan bekas budaknya yang telah melebur dalam 12 marga/suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keturunan mereka, kecuali Sadokh yang telah punah, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein).

Tahun 1871 Pemerintahan Belanda menjadikan daerah Depok sebagai daerah yang memiliki keresidenan sendiri.Pemerintahan Sipil atau dikenal dengan Gemeente Bestuur dibentuk tahun 1872 oleh para ahli waris Chastelein. Pemerintahan Sipil ini diketuai oleh seorang pemimpin yang disebut Presiden, yang dipilih berdasarkan pemungutan suara terbanyak setiap 3 tahun sekali. Dalam menjalankan pemerintahan Presiden Depok dibantu oleh Sekretaris, Bendahara, Kepala Polisi, Juragan (Kepala Administrasi Pemerintahan Wilayah) serta 2 orang pegawai. Kekuasaan Pemerintahan Sipil Depok berakhir pada 8 April 1949 ketika Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan keputusan tentang penghapusan tanah partikelir di seluruh Indonesia dan memberlakukan Undang-undang Agraria (Landereform).

Jalan Margonda. Bek Margonda, kabarnya nama itu yang lebih dikenal oleh orang-orang lama Depok. Sampai sekarang tidak ada yang tahu persis sejarah kepahlawanan Margonda. Keluarga Margonda sendiri (kabarnya ada di Cipayung, Depok) sampai sekarang belum dapat memberikan informasi mengenai sepak terjang atau dimana makam Margonda.

Berbeda dengan Margonda, informasi mengenai Tole Iskandar sedikit lebih jelas. Sepak terjang pahlawan ini di masa penjajahan Jepang sedikit banyak sudah tercatat dalam Perda Nomor 1/1999 tentang Hari Jadi dan Lambang Kota Depok. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Heiho dan Peta (Pembela Tanah Air) dibubarkan. Putra-putra Heiho dan Peta kembali ke kampungnya. Mereka diperbolehkan membawa perlengkapan kecuali senjata. Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, para pemuda Depok, khususnya bekas Heiho dan Peta terpanggil hatinya untuk berjuang. Pada September 1945, diadakan rapat pertama kali di sebuah rumah di Jalan Citayam (sekarang Jalan Kartini). Hadir diantaranya seorang bekas Peta, yakni Tole Iskandar berikut tujuh orang bekas Heiho dan 13 orang pemuda Depok lainnya. Pada rapat tersebut diputuskan dibentuk Barisan Keamanan Depok yang keseluruhannya berjumlah 21 orang. Tole Iskandar akhirnya terpilih menjadi komandan. Merekalah cikal bakal perjuangan di Depok.

depok_lama6

Waktu terus bergulir seiring pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tahun 1976, permukiman warga mulai dibangun dan berkembang terus hingga akhirnya pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif (Kotif) Depok. Pembentukan Kotif Depok itu diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri, yang saat itu dijabat oleh H Amir Mahmud.
Bersamaan dengan perubahan status tersebut, berlaku pula Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No 43 tahun 1981, tentang pembentukan Kotif Depok yang meliputi tiga Kecamatan. Yakni, Kecamatan Pancoran Mas, Kecamatan Beji, dan Kecamatan Sukmajaya. Ketiga Kecamatan itu memiliki luas wilayah 6.794 hektare dan terdiri atas 23 Kelurahan.

Lantaran tingginya tingkat kepadatan penduduk yang secara ad­ministratif telah mencapai 49 orang per hektare dan secara fungsional mencapai 107 orang per hektare, pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, yaitu 6,75 persen per tahun, dan pemikiran regional, nasional, dan Internasional akhirnya konsep pengembangan Kotif Depok mulai dirancang menuju kerangka Kota Depok. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka diperlukan beragam upaya perwujudan organisasi yang memiliki otonom sendiri, yaitu Kota Madya Depok atau Kota Depok.

Terbentuknya Kota Depok
Pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat yang kian mendesak, tuntutan Depok menjadi kotamadya menjadi semakin mak­simum. Di sisi lain Pemda Kabupaten Bogor bersama pemda Propinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tersebut, dan mengusulkan kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPRD Kabupaten Bogor, 16 Mei 1994, Nomor 135/SK, DPRD/03/1994 tentang Persetujuan Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Keputusan DPRD Propinsi Jawa Barat, 7 Juli 1997 Nomor 135/Kep, Dewan.06IDPRD/1997 tentang Persetujuan Pembentukan Kota Madya Daerah Tingkat II Depok maka pembentukan Kota Depok sebagai wilayah administratif baru ditetapkan berdasarkan Undang-Undang No. 15 tahun 1999, tentang pembentukan Kota Madya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada 20 April 1999.

Kota Depok itu sendiri diresmikan 27 April 1999 berbarengan dengan pelantikan Pejabat Wali Kota Madya Kepala Daerah Tk. I I Depok, Drs. H. Badrul Kamal, yang pada waktu itu menjabat sebagai Wali Kota Administratif Depok.
Momentum peresmian kotamadya ini dapat dijadikan landasan bersejarah dan tepat dijadikan hari jadi kota Depok. Wilayah Kota Depok diperluas ke Kabupaten Bogor lainnya, yaitu Kecamatan Limo, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sawangan dan sebagian Kecamatan Bojong Gede yang terdiri dari Desa Bojong Pondok Terong, Ratujaya, Pondok Jaya, Cipayung, dan Cipayung Jaya. Hingga kini wilayah Depok terdiri dari enam kecamatan terbagi menjadi 63 kelurahan, 772 RW, 3.850 RT serta 218.095 Rumah Tangga.

Depok menjadi salah satu wilayah termuda di Jawa Barat dengan luas wilayah sekitar 207.006 km2 yang berbatasan dengan tiga kabupaten dan satu provinsi. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang dan masuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, dan Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Ke­camatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor.

sumber:
http://sinergi-web.tripod.com/lintas.htm ;
http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depok.htm ;
http://dinginlebihnikmat.wordpress.com/2008/10/22/sejarah-depok/